Selasa, 19 Mei 2015

Amalan-amalan Sunnah Rasulullah SAW di Bulan Sya'ban

Yuk Sya'ban ala Rasulullah SAW 
(amalan-amalan sunnah dan tarbiyah imaniyah di bulan Sya'ban)
Muhib Al-MajdiSelasa, 30 Rajab 1436 H / 19 Mei 2015 09:30

Iskaff.blogspot.com (Arrahmah.com) – Bulan Ramadhan sebentar lagi akan menghampiri kita, setidaknya satu bulan kedepan setelah bulan Sya’ban. Banyak di antara kaum muslimin yang terjebak dalam amalan-amalan bid’ah di bulan Sya’ban ini karena mereka mengamalkan hadits-hadits yang statusnya lemah, lemah sekali dan bahkan palsu. Padahal terdapat banyak hadits shahih yang menjelaskan dengan rinci bagaimana tuntunan Nabi Muhammad SAW dalam mengisi bulan yang mulia ini.


  • Apakah Anda Sedang Mencari Tempat Alamat Terapi Bekam untuk Hipertensi Asam Urat Diabetes Jantung Koroner di wilayah Surabaya Sidoarjo Gresik dan seikitarnya ? Silakan Hubungi Pondok Bekam Indonesia, Tempat Alamat dan Peta Lokasi Klik Disini


Berikut ini kami sampaikan sekelumit tuntunan Nabi Muhammad SAW dalam mengisi bulan Sya’ban dan beberapa persiapan yang selayaknya dilakukan oleh kaum muslimin dalam rangka menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Semoga bermanfaat dan selamat menikmati.

Bulan puasa sunnah

Bulan Sya’ban adalah bulan yang disukai untuk memperbanyak puasa sunah. Dalam bulan ini, Rasulullah SAW memperbanyak puasa sunah. Bahkan beliau hampir berpuasa satu bulan penuh, kecuali satu atau dua hari di akhir bulan saja agar tidak mendahului Ramadhan dengan satu atau dua hari puasa sunah. Berikut ini dalil-dalil syar’i yang menjelaskan hal itu:



عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ: وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ

Dari Aisyah R.A berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW melakukan puasa satu bulan penuh kecuali puasa bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunah melebihi (puasa sunah) di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)
Dalam riwayat lain Aisyah berkata:

كَانَ أَحَبُّ الشُّهُورِ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَصُومَهُ شَعْبَانَ، ثُمَّ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ

“Bulan yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW untuk berpuasa sunah adalah bulan Sya’ban, kemudian beliau menyambungnya dengan puasa Ramadhan.” (HR. Abu Daud no. 2431 dan Ibnu Majah no. 1649)

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ : مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ إِلَّا شَعْبَانَ وَرَمَضَانَ

Dari Ummu Salamah R.A berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali bulan Sya’ban dan Ramadhan.” (HR. Tirmidzi no. 726, An-Nasai 4/150, Ibnu Majah no.1648, dan Ahmad 6/293)

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menulis: “Hadits ini merupakan dalil keutamaan puasa sunah di bulan Sya’ban.” (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari)

Imam Ash-Shan’ani berkata: Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengistimewakan bulan Sya’ban dengan puasa sunnah lebih banyak dari bulan lainnya. (Subulus Salam Syarh Bulughul Maram, 2/239)

Maksud berpuasa dua bulan berturut-turut di sini adalah berpuasa sunah pada sebagian besar bulan Sya’ban (sampai 27 atau 28 hari) lalu berhenti puasa sehari atau dua hari sebelum bulan Ramadhan, baru dilanjutkan dengan puasa wajib Ramadhan selama satu bulan penuh. Hal ini selaras dengan hadits Aisyah yang telah ditulis di awal artikel ini, juga selaras dengan dalil-dalil lain seperti:

Dari Aisyah RA berkata: “Aku tidak pernah melihat beliau SAW lebih banyak berpuasa sunah daripada bulan Sya’ban. Beliau berpuasa di bulan Sya’ban seluruh harinya, yaitu beliau berpuasa satu bulan Sya’ban kecuali sedikit (beberapa) hari.” (HR. Muslim no. 1156 dan Ibnu Majah no. 1710)

Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah salah seorang di antara kalian mendahului puasa Ramadhan dengan puasa (sunah) sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali jika seseorang telah biasa berpuasa sunnah (misalnya puasa Senin-Kamis atau puasa Daud—pent) maka silahkan ia berpuasa pada hari tersebut.” (HR. Bukhari no. 1914 dan Muslim no. 1082)

Bulan Kelalaian
Para ulama salaf menjelaskan hikmah di balik kebiasaan Rasulullah SAW memperbanyak puasa sunah di bulan Sya’ban. Kedudukan puasa sunah di bulan Sya’ban dari puasa wajib Ramadhan adalah seperti kedudukan shalat sunah qabliyah bagi shalat wajib. Puasa sunah di bulan Sya’ban akan menjadi persiapan yang tepat dan pelengkap bagi kekurangan puasa Ramadhan.

Hikmah lainnya disebutkan dalam hadits dari Usamah bin Zaid R.A, ia berkata: “Wahai Rasulullah SAW, kenapa aku tidak pernah melihat Anda berpuasa sunah dalam satu bulan tertentu yang lebih banyak dari bulan Sya’ban? Beliau SAW menjawab:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفِلُ النَّاسُ عَنْهُ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَال إِلى رَبِّ العَالمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عملي وَأَنَا صَائِمٌ
“Ia adalah bulan di saat manusia banyak yang lalai (dari beramal shalih), antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan di saat amal-amal dibawa naik kepada Allah Rabb semesta alam, maka aku senang apabila amal-amalku diangkat kepada Allah saat aku mengerjakan puasa sunah.” (HR. Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Khuzaimah. Ibnu Khuzaimah menshahihkan hadits ini)

Bulan Menyirami Amalan-amalan Shalih

Di bulan Ramadhan kita dianjurkan untuk memperbanyak amalan sunah seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, beristighfar, shalat tahajud dan witir, shalat dhuha, dan sedekah. Untuk mampu melakukan hal itu semua dengan ringan dan istiqamah, kita perlu banyak berlatih. Di sinilah bulan Sya’ban menempati posisi yang sangat urgen sebagai waktu yang tepat untuk berlatih membiasakan diri beramal sunah secara tertib dan kontinu.

Dengan latihan tersebut, di bulan Ramadhan kita akan terbiasa dan merasa ringan untuk mengerjakannya. Dengan demikian, tanaman iman dan amal shalih akan membuahkan takwa yang sebenarnya.Abu Bakar Al-Balkhi berkata: “Bulan Rajab adalah bulan menanam. Bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman. Dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen hasil tanaman.”

Beliau juga berkata: “Bulan Rajab itu bagaikan angin. Bulan Sya’ban itu bagaikan awan. Dan bulan Ramadhan itu bagaikan hujan.”

Barangsiapa tidak menanam benih amal shalih di bulan Rajab dan tidak menyirami tanaman tersebut di bulan Sya’ban, bagaimana mungkin ia akan memanen buah takwa di bulan Ramadhan? Di bulan yang kebanyakan manusia lalai dari melakukan amal-amal kebajikan ini, sudah selayaknya bila kita tidak ikut-ikutan lalai.

Bersegera menuju ampunan Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya adalah hal yang harus segera kita lakukan sebelum bulan suci Ramadhan benar-benar datang.

Bulan Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan

Bulan Sya’ban adalah bulan latihan, pembinaan dan persiapan diri agar menjadi orang yang sukses beramal shalih di bulan Ramadhan. Untuk mengisi bulan Sya’ban dan sekaligus sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadhan, ada beberapa hal yang selayaknya dikerjakan oleh setiap muslim.

  • Persiapan iman, meliputi:
    • Segera bertaubat dari semua dosa dengan menyesali dosa-dosa yang telah lalu, meninggalkan perbuatan dosa tersebut saat ini juga, dan bertekad bulat untuk tidak akan mengulanginya kembali pada masa yang akan datang.
    • Memperbanyak doa agar diberi umur panjang sehingga bisa menjumpai bulan Ramadhan.
    • Memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban agar terbiasa secara jasmani dan rohani. Ada beberapa cara puasa sunah yang dianjurkan di bulan Sya’ban, yaitu: Puasa Senin-Kamis setiap pekan ditambah puasa ayyamul bidh (tanggal 13,14 dan 15 Sya’ban), atau puasa Daud, atau puasa lebih bayak dari itu dari tanggal 1-28 Sya’ban.
    • Mengakrabkan diri dengan Al-Qur’an dengan cara membaca lebih dari satu juz per hari, ditambah membaca buku-buku tafsir dan melakukan tadabbur Al-Qur’an.
    • Meresapi kelezatan shalat malam dengan melakukan minimal dua rakaat tahajud dan satu rekaat witir di akhir malam.
    • Meresapi kelezatan dzikir dengan menjaga dzikir setelah shalat, dzikir pagi dan petang, dan dzikir-dzikir rutin lainnya.
  • Persiapan Ilmu, meliputi:
    • Mempelajari hukum-hukum fiqih puasa Ramadhan secara lengkap, minimal dengan membaca bab puasa dalam (terjemahan) kitab Minhajul Muslim (syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi) atau Fiqih Sunnah (syaikh Sayid Sabiq) atau Shahih Fiqih Sunnah (Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayid Salim) atau pedoman puasa (Tengku Moh. Hasbi Ash-Shidiqi) atau buku lainnya.
    • Mempelajari rahasia-rahasia, hikmah-hikmah, dan amalan-amalan yang dianjurkan atau harus dilaksanakan di bulan Ramadhan, dengan membaca buku-buku yang membahas hal itu. Misal (terjemahan) Mukhtashar Minhjaul Qashidin (Ibnu Qudamah Al-Maqdisi) atau Mau’izhatul Mu’minin (Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi) atau buku-buku dan artikel-artikel para ulama lainnya.
    • Mempelajari tafsir ayat-ayat hukum yang berkenaan dengan puasa, misalnya dengan membaca (terjemahan) Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (Ibnu Katsir), atau Tafsir Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an (Al-Qurthubi), atau Tafsir Adhwa-ul Bayan (Asy-Syinqithi).
    • Mempelajari buku-buku akhlak yang membantu menyiapkan jiwa untuk menyambut bulan Ramadhan.
    • Mendengar ceramah-ceramah para ustadz/ulama yang membahas persiapan menyambut dan mengisi bulan suci Ramadhan.
    • Mengulang-ulang hafalan Al-Qur’an sebagai persiapan bacaan dalam shalat Tarawih, baik bagi calon imam maupun orang yang shalat tarawih sendirian di akhir malam (tidak berjama’ah ba’da Isya’ di masjid).
    • Mendengarkan bacaan murattal shalat tarawih para imam masjid yang terkenal keahliannya di bidang tajwid, hafalan, dan kelancaran bacaan.
  • Persiapan dakwah, meliputi:
    • Menyiapkan materi-materi untuk kultum, taushiyah, ceramah, khutbah Jum’at dan dakwah bil lisan lainnya.
    • Membuat serlebaran, brosur, pamflet, majalah dinding, buletin dakwah dan lembar-lembar dakwah yang mengingatkan kaum muslimin tentang tata cara menyambut Ramadhan.
    • Mengikuti kultum, ceramah-ceramah, dan pengajian-pengajian yang diadakan di sekitar kita (lingkungan masjid, tempat kerja, tempat belajar-mengajar) baik sebagai pemateri atau peserta sebagai bentuk persiapan dan pembiasaan diri untuk mengikuti kegiatan serupa di bulan Ramadhan.
    • Mengadakan pesantren kilat, kursus keislaman, islamic study dan acara-cara sejenis.
  • Persiapan Keluarga, meliputi:
    • Menyiapkan anak-anak dan istri untuk menyambut kedatangan Ramadhan dengan mengenalkan kepada mereka persiapan-persiapan yang telah disebutkan di atas.
    • Membiasakan mereka untuk menjaga shalat lima waktu, shalat sunnah Rawatib, shalat dhuha, shalat malam (tahajud dan witir), dan membaca Al-Qur’an.
    • Memberikan taushiyah /kultum harian jika memungkinkan.
    • Meminimalkan hal-hal yang melalaikan mereka dari amal shalih di bulan Sya’ban dan Ramadhan, seperti musik-musik dan lagu-lagu jahiliyah, menonton TV, dan kegiatan-kegiatan lain yang tidak membawa manfaat di akhirat.
    • Menyisihkan sebagian pendapatan untuk sedekah di bulan ini dan bulan Ramadhan.
  • Persiapan Mental Meliputi : 
    • Menyiapkan tekad yang kuat dan sungguh-sungguh untuk:
    • Membuka lembaran hidup baru dengan Allah SWT, sebuah lembaran putih yang penuh dengan amal ketaatan dan berisi sedikit amal-amal keburukan
    • Membuat hari-hari kita di bulan Ramadhan tidak seperti hari-hari kebiasaan kita di bulan lain yang penuh dengan kelalaian dan kemaksiatan
    • Meramaikan masjid dengan melakukan shalat lima waktu secara berjama’ah di masjid terdekat dan menghidupkan sunah-sunah ibadah yang telah lama kita tinggalkan, seperti: bertahan di masjid ba’da Subuh sampai terbitnya matahari untuk dzikir, tilawah Al-Qur’an, atau belajar-mengajar; hadir di masjid sebelum adzan dikumandangkan; bersegera ke masjid untuk mendapatkan shaf awal; menunggu kedatangan imam dengan shalat sunnah dan niat I’tikaf; dst.
    • Membersihkan puasa dari hal-hal yang merusak pahalanya, seperti bertengkar, sendau gurau dan perbuatan-perbuatan iseng yang sekedar untuk mengisi waktu tanpa membawa manfaat akhirat sedikit pun (main catur, main kartu, nongkrong bareng sambil menyanyi dan main gitar; dst)
    • Menjaga dan membiasakan sikap lapang dada dan pemaaf
    • Beramal shalih di bulan Ramadhan dan memulai banyak niat sedari sekarang. Seperti; niat bertaubat, niat membuka lembaran hidup baru dengan Allah, niat memperbaiki akhlak, niat berpuasa ikhlas karena Allah semata, niat mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari sekali, niat shalat tarawih dan witir, niat memperbanyak amalan sunah, niat mencari ilmu, niat dakwah, niat membantu menolong dan menyantuni sesama muslim yang membutuhkan, niat memperjuangkan agama Allah, niat umrah, niat jihad dengan harta, niat I’tikaf; dst)
  • Persiapan Jihad Melawan Hawa Nafsu
    • Mengekang hawa nafsu dari kebiasaan-kebiasaan buruk dan keinginan hidup mewah, boros, kikir, dan menikmati makanan-minuman yang lezat atau pakaian yang baru di bulan Ramadhan
    • Membiasakan lisan untuk mengatakan perkataan-perkataan yang baik dan bermanfaat; mencegahnya dari mengucapkan perkataan-perkataan keji, jorok, menggunjing, mengadu domba, dan perkataan-perkataan yang tidak membawa manfaat di akhirat
    • Mencegah hawa nafsu dari keinginan untuk melampiaskan kemarahan, kesombongan, penyimpangan, kemaksiatan dan kezaliman
    • Membiasakan diri untuk hidup sederhana, ulet, sabar, dan sanggup memikul beban-beban dakwah dan jihad di jalan Allah
    • Melakukan muhasabah (introspeksi) harian dengan membandingkan antara program-program persiapan di atas dan tingkat keberhasilan pelaksanaannya.

Inilah sekelumit amalan sunnah di bulan Sya’ban dan persiapan yang selayaknya dilakukan oleh kaum muslimin dalam rangka menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan.
Semoga kita termasuk golongan yang bisa berniat, berucap, dan berbuat yang terbaik di bulan Sya’ban dan Ramadhan yang akan datang. Hanya kepada Allah SWT kita memohon petunjuk dan pertolongan.
Wallahu a’lam bish shawab..
(muhib al majdi/arrahmah.com)
TOPIK: AMALAN SUNNAH, HEADLINE, PERSIAPAN RAMADHAN, RAMADHAN, SYABAN
- See more at: http://www.arrahmah.com/kajian-islam/yuk-syaban-ala-rasulullah-saw-amalan-amalan-sunnah-dan-tarbiyah-imaniyah-di-bulan-syaban

Senin, 18 Mei 2015

Tilawah Al Quran Langgam Jawa, MUI: Ganjil Lagi Bikin Onar

Tilawah Al Quran langgam Jawa, MUI: Ganjil lagi bikin onar
A. Z. Muttaqin Senin, 29 Rajab 1436 H / 18 Mei 2015 09:30
Tilawah Al-Qur'an dengan Langgam Jawa di Istana Negara saat perayaan Istra Miraj Jumat (15/5/2015)
 

JAKARTA (Arrahmah.com) – Wakil Sekretariat Jendral Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnaen mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan hal-hal ganjil terhadap nilai-nilai agama Islam.


  • Apakah  Anda sedang mencari Tempat Alamat Bekam di Surabaya Sidoarjo Gresik dan sekitarnya untuk keluhan Pegel-pegel, capek-capek Kholesterol Asam Urat Migrain Hipertensi dan lainnya ?. Silakan Hubungi Pondok Thibbun Nabawi di Surabaya. Tempat Alamat dan Peta Lokasi KLIK DISINI


Apalagi, keganjilan itu membuat onar dan melahirkan keresahan bagi masyarakat. Hal tersebut diungkapkan Tengku terkait adanya fenomena pembacaan (tilawah) Al Quran dengan langgam Jawa.

Tengku menyarankan agar masyarakat mengikuti pakem yang telah ada ketika membaca Alquran. “Tidak usah nekat mencari-cari hal yang membuat resah masyarakat saja,” ungkapnya pada Republika, Ahad (17/5/2015).

Sebaiknya, masyarakat mengasah kemampuan dan pengetahuan huruf dan tajwid Al Quran hingga baik.

Terkait dengan keganjilan, dia menerangkan Nabi pernah berfirman terhadap hal tersebut. “Barang siapa yang ganjil, maka nanti masuk neraka. Karena neraka khusus untuk orang-orang yang ganjil,” tambahnya.

Pada perayaan agama Islam tingkat nasional, sepengetahuan Tengku, fenomena pembacaan Al Quran dengan langgam Jawa ini baru terjadi. Dan menurutnya hal itu konyol.


  • Apakah Anda juga mencari Tempat Alamat Gurah Hidung untuk keluhan Sinusitis Napas Sesak Hepertensi dengan unsur Lembab Diabetes dengan unsur Lembab dan lainnya di daerah Surabaya Gresik Sidoarjo dan sekitarnya?, hubungi kami di Pondok Gurah Indonesia di Surabaya. Tempat Alamat dan Peta Lokasi KLIK DISINI


“Karena presiden pertama Indonesia saja, Ir. Soekarno tidak pernah melakuakann hal itu. Dia justru bersusah-payah mendatangkan Syekh Usman Fattah dari Medan ke Istana Negara untuk membaca Al Quran pada acara-acara Islam,” tutur Tengku.

Dia juga menegaskan, dalam hadis shohih, Rasulullah pernah mengatakan pada akhir zaman akan muncul orang-orang pembaca Alquran yang mendayu-dayu seperti tiupan seruling.

“Dan mereka (yang membaca Al Quran langgam Jawa dan mendayu-dayu) akan dilaknat,” jelas Tengku pada ROL, Ahad (17/5/2015). Hal ini, kata dia, telah dikatakan nabi dan rasul.

Dia menerangkan Rasul juga pernah bersabda dalam hadits Ahmad yang sohih. Dalam hadits tersebut, Rasul mengkhawatirkan enam hal yang akan terjadi pada umatnya, salah satunya adalah menjadikan Alquran seperti nyanyian. “Nanti ada baca Al Quran langgam jawa, dangdut, seriosa, bugis, melayu, india, dan lainnya. Astaghfirullah,” ucap Tengku.

Menurut Tengku, hal ini cukup ganjil. Dia menilai semua orang yang berakal waras seharusnya tahu jika bahasa itu mesti sempurna saat memakai dialek dan intonasi. “Apalagi ini, wahyu ilahi,” tegasnya.

Langgam Jawa ketika membaca Al Quran, lanjutnya, akan merusak fashihnya Al Quran. Hal ini karena saat membaca Alquran membaba Alquran dengan langgam Jawa, pembacanya pasti harus mempertahankan totok-medok bahasa Jawa.

“Demi menjaga kelok dan langgamnya, maka panjang dan pendeknya jadi berantakan. Demi menjaga langgam dan “ruh” Jawanya yang mesti totok-medok Jawanya, jadi rusaklah fashohnya,” tukasnya lugas. (azm/arrahmah.com)

TOPIK: BACA AL QUR'AN, MUI

- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2015/05/18/tilawah-al-quran-langgam-jawa-mui-ganjil-lagi-bikin-onar.html#sthash.DHInkFXi.dpuf

Minggu, 10 Mei 2015

ISKAFF : Ketua NU dan Banser Solo bantah hadir dan amankan kirab salib

[ISKAFF] : Ketua NU dan Banser Solo bantah hadir dan amankan kirab salib
A. Z. Muttaqin Senin, 22 Rajab 1436 H / 11 Mei 2015 08:02

<== Forum silaturahim di Markas Komando Distrik Militer (Makodim) 0735 Solo, Sabtu (9/5/2015)
 
SURAKARTA -ISKAF-FROM (Arrahmah.com) – Ketua Nahdhatul Ulama (NU) dan Banser (barisan serbaguna) Solo bantah turut hadir dan mengamankan kirab salib di Kota Solo beberapa waktu lalu. Pernyataan ini disampaikan oleh Ketua NU Solo H. Helmy Akhmad Sakdilah, SE di Markas Komando Distrik Militer (Makodim) 0735 Solo.

Apakah anda sedang mencari Tempat Atau Alamat Terapi Bekam atau Gurah dan Terapi Lintah di Surabaya Sidoarjo Greik Mojokerto dan sekitarnya dan belum ketemu atau ketemu tapi kurang cocok, coba datang ke Pondok Bekam Indonesia [Pak Andi Bekam Surabaya] di Surabaya. Alamat dan Peta Lokasi KLIK DISINI

“Saat itu Saya masih berada di luar kota, dan Saya sudah cek ke Komandan Banser bahwa tidak ada anggota Banser yang ikut mengamankan Kirab Salib,” jelas Helmy pada forum silaturahim yang di prakarsai oleh Dandim Solo Letkol inf Chrisbianto Arimurti, Sabtu (9/5/2015).

Helmy, sebagaimana dilaporkan Endro Sudarsono, mengaku menjadi “Jujugan” (bahan pertanyaan) dari ormas Islam maupun dari para Kyai NU atas berita dan foto di media cetak yang seragam pemikul salib mirip dengan seragam Banser pada Rabu (29/4/ 2015) lalu.

Hadir dalam Forum ini Dandim Solo Letkol inf Chrisbianto Arimurti , Ketua Nahdhatul Ulama (NU) Solo H. Helmy Akhmad Sakdilah, SE, Ahmad Sukidi (Muhammadiyah), Drs. Yusuf Suparno (Tim Advokasi Dewan Syariah Kota Surakarta/DSKS), Edi Lukito, SH ( Ketua Laskar Umat Islam Surakarta/LUIS), Umar (Perwakilan Pondok Pesantren), Kompol Sugiyo (Kasat Intelkam Polresta Surakarta) dan perwakilan dari Yonif 413 Kostrad

Kirab Salib di Kota Solo, Rabu sore 29 april 2015/ 10 rajab 1436 pukul 15.30
Sementara itu, terkait rencana kegiatan hari Sabtu 16 Mei 2015 baik Parade Tauhid Menyambut Ramadhan yang diselenggarakan MUI dan DSKS dengan waktu pagi sampai siang maupun Parade Hadrah yang diselanggarakan NU mulai sore hingga malam, dalam forum ini Dandim juga berharap agar warga Solo membantu pihak aparat keamaan dalam menjaga kondisivitas kota Solo.

Keprihatinan seorang Ustadz

Seorang ustadz di Pesantren Tahfidzhul Qur’an Kottabarat Surakarta mengungkapkan kesedihannya saat arak-arakan 270 salib melewati pesantren pencetak penghafal Qur’an itu.

Yang membuatnya sedih, di saat umat Islam masih disibukkan dengan renggangnya ukhuwah, gereja di Surakarta berhasil memobilisasi 1.200 massa pawai. “Seakan ingin menunjukkan kepada publik bahwa Solo adalah kota salib,” kata Ahmad Syaiful Anam seperti dilansir alamislam.com.

“Yang membuat saya sedih..,” tambahnya, “kirab salib ini melewati pesantren Kottabarat yang mencetak para penghafal al Qur’an.. Saya malu kepada Allah..”

Pesantren Tahfidzhul Qur’an Kotta Barat merupakan salah satu pesantren di bawah supervisi Ma’had Abu Bakar Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pesantren ini dilewati kirab yang diikuti oleh sekitar 1.200 umat Kristiani tersebut. Praktis, anak-anak siswa SD Muhammadiyah juga melihat kirab salib itu. Ahmad khawatir, kirab salib itu akan memberikan sebuah pengalaman yang membekas bagi anak-anak sekecil itu. Apalagi dalam kirab tersebut didemonstrasikan peragaan penyiksaan Yesus Kristus.

Yang membuatnya bertambah sedih, kirab tersebut bersamaan dengan pelaksanaan shalat Ashar. Dan banyak masyarakat yang lebih tertarik melihat kirab tersebut dari pada melaksanakan shalat Ashar di awal waktu.

Lebih jauh Ahmad menilai, kirab dalam rangka paskah, Rabu (29/4/2015) itu memberi makna betapa kuatnya kristenisasi di Solo dan betapa mereka telah siap menyambut Pilkada Surakarta 2015. Ia pun berharap umat Islam segera sadar dan bersatu agar Surakarta tidak lagi dipimpin oleh non Muslim.

“Jika di Pilkada 2015 ini Surakarta kembali dipimpin non muslim, bersiaplah untuk menikmati kebijakan-kebijakan yang merugikan umat Islam..,” pungkasnya.(azmuttaqin/arrahmah.com)

TOPIK: BANSER NU, KIRAB SALIB, NU SOLO

- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2015/05/11/ketua-nu-dan-banser-solo-bantah-hadir-dan-amankan-kirab-salib.html#sthash.N2VmKYNp.dpuf
http://www.arrahmah.com/news/2015/05/11/ketua-nu-dan-banser-solo-bantah-hadir-dan-amankan-kirab-salib.html

Apakah anda masin sedang dan terus mencari-cari  Tempat Atau Alamat Terapi Bekam atau Gurah dan Terapi Lintah di Surabaya Sidoarjo Greik Mojokerto dan sekitarnya dan belum ketemu atau ketemu tapi kurang cocok, coba datang ke Pondok Bekam Indonesia [Pak Andi Bekam Surabaya] di Surabaya. Alamat dan Peta Lokasi KLIK DISINI